Rabu, 08 Januari 2014

Workshop GIS FKH UGM


Definisi Geographical Information System (GIS) menurut laman (www.esri.com) adalah sistem yang memungkinkan kita untuk memvisualisasikan, menganalisa, mengintepretasikan data, dan memahami data untuk mengetahui hubungan, pola, dan tren dari informasi yang kita dapatkan. GIS adalah sistem yang majemuk. Penggunaan GIS awalnya hanya terbatas pada militer saja, tetapi seiring dengan kemajuan zaman GIS sudah diaplikasikan ke banyak bidang. Di dunia satwa liar GIS sangat berguna untuk melakukan survey. Dengan GIS kita bisa melacak kembali keberadaan satwa liar untuk kemudian dianalisa. Misalnya kita ingin mengetahui penyebaran suatu spesies satwa liar tertentu di suatu daerah. Yang akan kita lakukan adalah turun ke lapangan untuk mendeteksi keberadaan satwa tersebut. Apabila kita bertemu dengan satwa yang kita maksud atau menemukan keberadaan satwa liar tersebut maka kita bisa menandai daerah tersebut mengunakan GIS. Penandaan suatu daerah menggunakan GIS menjadi sangat berguna karena penandaan ini bersifat internasional. Meskipun peralatan yang digunakan berbeda-beda tetapi akan menunjukkan titk yang sama. Setelah dilakukan penandaan langkah selanjutnya adalah analisa data menggunakan piranti lunak di komputer. Titik-titik penemuan satwa liar yang kita tandai menggunakan GIS bisa kita lihat dalam bentuk peta sehingga kita bisa melihat persebaran satwa liar dengan lebih menyeluruh. Analisa GIS tidak berhenti sampai disana. Kita bisa mengabungkan data yang kita peroleh misalnya dengn ketersediaan pakan untuk satwa tersebut. Dari penggabungan peta tersebut kita dapat menarik kesimpulan apakah ada hubungan antara penyebaran satwa liar dengan ketersediaan pakan atau tidak. Ini hanyalah salah satu contoh implementasi penggunaan GIS dalam dunia satwa liar. Masih banyak lagi kegunaan lain yang bisa dilakukan GIS untuk membantu mensejahterakan satwa liar.

Workshop GIS FKH Universitas Gadjah Mada 21 Desember 2013

Jumat, 22 November 2013

Taurine Pada Diet Felidae


Kebutuhan protein yang tinggi pada Felidae disebabkan karena kurangnya enzim aminotransferase dan enzim siklus urea pada famili ini. Kurangnya kedua enzim tersebut memberikan efek yang besar pada sintesis zat nutrisi yang diperlukan tubuh. Famili Felidae membutuhkan banyak taurine dan arginine dalam dietnya (Knopf et al. 1978).
Umumnya mamalia dapat mensintesis taurine dalam tubuh. Taurine diketahui bukan merupakan zat esensial kecuali pada hewan muda. Akan tetapi taurine merupakan zat esensial pada famili kucing-kucingan. Taurine merupakan asam amino. Taurine tidak termasuk pembentuk polipeptida tetapi berada di dalam jaringan tubuh hewan sebagai asam amino bebas. Pada mamalia taurine tidak dioksidasi, melainkan digunakan sebagai konjugat pada asam empedu. Anjing dan kucing menggunakan taurine sebagai konjugat asam empedu, sedangkan spesies lainnya termasuk manusia bisa menggunakan taurine atau glysin untuk mengkonjugasi asam empedu. Anjing menggunakan taurine untuk mengkonjugasi asam empedu akan tetapi hewan seperti anjing dan pengerat mempunyai kemampuan sintesis yang luar biasa sehingga bisa mencukupi kebutuhan taurin dalam tubuh. Spesies yang mempunyai kemampuan sintesis taurin lebih rendah seperti kelinci mengganti taurine dengan glycine sebagai konjugat asam empedunya. Spesies seperti manusia dan monyet dunia lama menggunakan taurine sebagai konjugat asam empedunya tetapi menggantinya dengan glycine ketika kadar taurine dalam plasma rendah. Inilah yang membuat kucing sangat sensisitif terhadap defisiensi taurine dibandingkan spesies lain. Keadaan ini diperburuk dengan kebutuhan pertumbuhan masaa otot yang besar pada famili Feidae (Hayes 1981).
Mamalia mensintesis taurine dengan cara mengoksidasi sulfur asam amino cystein. Felidae memiliki semua enzim yang dibutuhkan untuk mensintesis taurin, akan tetapi aktivitas enzim untuk sisntesa taurine lebih rendah dibandingkan spesies mamalia lainnya. Enzim terebut adalah cystein dioksigenase (CD) yang mengkatalisasi oksidasi cystein menjadi asam cysteinesulphid (CSA) dan asam cysteinesulphic dekarboksilase yang mengakatalisasi konversi CSA menjadi hypotaurine. Kurangnya aktivitas kedua enzime tersebut menimbulkan efek yang berlipat. Rendahnya aktivitas enzim akan memperlambat perjalanan sintesis taurine (Morris 2001).
Hayes et al. (1975) melaporkan bahwa defisiensi taurine pada Felidae dapat menyebabkan degenerasi retina. Selain itu Stuman et al. (1987) menunjukkan bahwa defisiensi taurine pada induk kucing bisa menyebabkan gangguan reproduksi dan kelainan pertumbuhan pada anak yang dikandungnya. Dalam penelitian yang lain disebutkan bahwa defisiensi taurine dihubung-hubungkan dengan kejadian dilatasi kardiomiopati, keadaan ini bisa diperbaiki dengan penambahan supplemen taurin pada pakan.
Taurine banyak terdapat pada pakan yang berasal dari hewan dan juga ikan. Taurine banyak terdapat pada jaringan hewan. Satwa anggota famili Felidae yang diberi pakan menggunakan daging. Permasalahan timbul ketika satwa diberikan pakan kombinasi antara daging dan bahan-bahan sayuran. Hal ini sering terjadi pada kucing domestik. Keuntungan lain memberikan daging hewan sebagai pakan selain mencukupi kebutuhan taurin dalam tubuh satwa adalah metabolisme protein-protein dalam daging akan menghasilkan pyruvat yang akan dikonversikan menjadi energi (Morris 2001).
Daftar Pustaka
Hayes, K.C., Carey, R.E. and Schmidt, S.J. 1975. Retinal degeneration associated with taurine deficiency in the cat. Science 188, 949–951.
Hayes, K.C. 1981. Nutritional Problems in Cats: Taurine Deficiency and Vitamin A Excess. Can. vet. J. 23: 2-5
Knopf K, Sturman JA, Amstrong M, Hayes C. 1978. Taurine: An Essential Nutrient for the Cat. J. Nutr. 108: 773-778,
Morris JG. 2001. Unique nutrient requirements of cats appear to be diet–induced evolutionary adaptations. Recent Advances in Animal Nutrition in Australia, Volume 13
Sturman, J.A., Gargano, A.D., Messing J.M. and Imake, H. 1987. Nutritional taurine deficiency and feline pregnancy and outcome. In: The Biology of Taurine. Methods and Mechanisms, pp. 113–124 (eds. R.J. Huxtable, F. Franconi and A. Giotti), Advances in Experimental Medicine, 217.

Kamis, 21 November 2013

Ubur-Ubur Sampah


Sampah dan kehidupan manusia adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Seiring dengan pertumbuhan populasi manusia maka sampah juga semakin banyak. Sebagai contoh, setiap hari Kota Jakarta menghasilkan 6.500 ton sampah sehari (Antara, 2013). Lalu kemana perginya sampah-sampah tersebut?. Ya, ke laut. Sampah dari seluruh dunia berkumpul di samudra pacific tepatnya di North Pacific Gyre. Sampah-sampah dari seluruh dunia berkumpul membentuk Great Pacific Garbage Patch. Tentunya sampah tersebut akan menimbulkan masalah bagi ekosistem laut, tak terkecuali bagi satwa liar yang hidup di laut. Setiap tahun kurang lebih 100.000 ekor mamalia laut dan penyu mati akibat sampah. Sampah-sampah tersebut termakan oleh satwa dan akhirnya meyebabkan kematian. Penyu seringkali salah membedakan antara kantong plastik dengan jellyfish atau ubur-ubur. Ubur-ubur adalah makanan favorit penyu (www.seaturtle.org 2013). Menyedihkan bukan?. Hal ini harus menjadi perhatian kita bersama untuk membuang sampah pada tempatnya. Salam Lestari!

Jumat, 28 Juni 2013

CARE itu peduli

 Care itu peduli, peduli itu ditunjukkan dengan CARE

Cause Animal Roars On Earth atau yang sering disingkat dengan CARE merupakan serangkaian acara yang dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa anggota Himpunan Minat dan Profesi Satwaliar, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor terhadap satwa yang terancam punah diakibatkan maraknya penjualan secara ilegal dan perburuan liar. Kegiatan CARE ini merupakan kelanjutan dari Seminar Nasional yang bertemakan “Pangolins; Know Them Well Treat Them Right yang dilakasanakan pada Sabtu, tanggal 1 Juni 2013 di Auditorium Andi Hakim Nasution Institut Pertanian Bogor.  Kegiatan CARE ini sendiri berlangsung pada Minggu, 9 Juni 2013 yang bertempatkan di Taman Safari Indonesia I, Cisarua.
Penyuluhan terhadap para pengunjung
Dikegiatan tahun ini tim CARE diberikan kesempatan yang sangat istimewa yaitu dapat menikmati fasilitas dari Taman Safari Indonesia I, Cisarua. Namun selain itu juga, ada tugas yang harus diemban dipundak masing-masing tim CARE yakni memberi edukasi kepada pengunjung tentang Trenggiling dan pentingnya arti medis konservasi. Kegiatan yang diketuai oleh Davin Christianto ini berjalan dengan menyenangkan karena banyak pengunjung yang antusias dengan penyampaian tim CARE mengenai perburuan liar satwa dan Trenggiling itu sendiri. Salah satunya adalah Bapak Joko Widodo yang berasal dari Bekasi.
“Kalau mau dinikmati, ya dinikmati bersama dong, itu seh namanya egois, seperti di Taman Safari saja, biar anak-anak dan orang tua kayak kami ini bisa sama-sama belajar tentang satwa, kan lebih bermafaat”, tutur seorang Bapak dari dua anak perempuan ini saat kami minta waktunya untuk sedikit wawancara mengenai tanggapan beliau terhadap perdagangan satwa. Selain itu juga ada dua koresponden yang mengaku pernah memelihara Trenggiling, dan tidak sedikit yang mengatakan pernah melihat Trenggiling diperjual belikan, serta sangat sedikit koresponden yang mengetahui zoonosis pada satwa liar. Pada umumnya mereka hanya mengetahui penyakit yang sering diberitakan seperti Antrhaks dan juga Flu Burung, sehingga dari tim CARE sendiri perlu memberikan informasi lebih mengenai penyakit zoonosis yang berasal dari satwa liar apalagi di Taman Safari Indonesia sendiri memiliki zona yang mengijinkan adanya kontak dengan satwa liar di antaranya Baby Zoo. Sedikit sekali pengunjung yang menyadari pentingnya mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh hewan setelah mereka mengambil photo bersama hewan, sementara pihak Taman Safari Indonesia sudah memberikan fasilitas tempat cuci tangan.
                Seperti yang dikatakan oleh Bapak Irawan selaku Manager Pemasaran Taman Safari Indonesia mengenai pengunjung Taman Safari Indonesia yang sudah terfilter dengan baik dengan adanya biaya masuk mencapai Rp 140.000,-, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa kesadaran pengunjung tentang pentingnya menjaga kebersihan selama kontak dengan hewan itu masih sangat rendah.
                Semoga dengan adanya kegiatan CARE ini, dapat sangat mmembantu masyarakat khususnya pengunjung Taman Safari Indonesia akan pentingnya menjaga kelestarian satwa, yang tidak hanya menikmati keindahan dan keberagaman satwa tetapi juga mengambil ilmu yang bermanfaat bagi diri sendiri, dan juga keluarganya.

Teks dan gambar oleh: Rahmayani Ramadhina (Satli 47)


Sabtu, 01 Desember 2012

Rapat Umum Anggota HIMPRO Satwaliar FKH IPB

Himpunan Minat dan Profesi Satwaliar FKH IPB (HIMPRO SATLI FKH IPB) telah melaksanakan Rapat Umum Anggota (RUA) pada hari jumat (30 November 2012). Ada tiga agenda penting dalam RUA yaitu Laporan Pertanggung Jawaban pengurus tahun 2011/2012, pembahasan AD/ART tahun 2012/2013, dan pemilihan ketua HIMPRO SATLI FKH IPB tahun 2012/2013. Laporan pertanggung jawaban berlangsung lancar dan diterima oleh forum yang hadir. Beberapa rekomendasi diberikan kepada pengurus yang akan datang untuk perbaikan HIMPRO SATLI satu tahun ke depan. Pembahasan AD/ART juga berlangsung lancar. Beberapa pasal yang sudah tidak relevan direvisi untuk kebaikan HIMPRO SATLI setahun ke depan. Agenda terkahir dari RUA HIMPRO SATLI adalah pemilihan ketua untuk periode 2012/2013 yang akhirnya memutuskan I Nengah Donny Artika sebagai ketua HIMPRO SATLI FKH IPB tahun 2012/2013.

Minggu, 23 September 2012

Turtle Guard FKH Universitas Udayana



Mahasiswa sudah seharusnya peduli terhadap lingkungan sekitar, termasuk terhadap kelestarian satwa. Selain dikenal sebagai agent of change atau pembawa perubahan mahasiswa memang mempunyai tanggung jawab yang lebih besar dalam melestarikan alam dibandingkan masyrakat awam. Dengan keilmuan yang dimiliki mahasiswa, maka mahasiswa sangat mampu untuk mengemban tugas mulia ini.

Selain dikenal sebagai kamu intelek, mahasiswa juga dikenal sebagai insan kreatif. Seperti yangdilakukan mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana (FKH Unud). Beberapa mahasis wa FKH Unud tergabung dalam sebuah organisasi intra kampus Minat Profesi Satwa Aquatic Turtle Guard FKH Unud. Organisasi ini mengkhususkan diri dalam bidang konservasi penyu dan satwa laut yang dilindungi. Tujuan didirikanya organisasi ini adalah sebagai wadah kreasi bagi mahasiswa FKH dan institusi lain untuk berlatih dan menuangkan aspirasinya dalam upaya konservasi penyu laut serta satwa laut dilindungi atau terancam punah lainnya. Turtle Guard (TG) sudah berdiri sejak 22 april 2004. Meskipun terbilang cukup muda tetapi TG sudah banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang sangat bermanfaat bagi konservasi penyu maupun bagi anggota TG sendiri. Menurut Ida Ayu Dian Kusuma Dewi (Ketua TG) kegiatan yang rutin dilakukan antara lain monitoring kesehatan penyu dan tukik di Pusat Konservasi dan Pendidikan  Penyu Laut (Turtle Conservation and Education Center) Serangan. Selain kegiatan rutin tersebut, TG juga banyak melakukan kegiatan yang bersifat insidental seperti. seperti Beach Clean Up setiap 6 bulan sekali, penyelamatan (relokasi) sarang penyu, dan seminar-seminar tentang satwa liar akuatik dan penyu. Ida Ayu juga menambahkan bahwa tahun ini TG memfokuskan diri pada tiga hal yaitu Habitat Protection (perlindungan terhadap nesting site),  mengurangi perdagangan illegal dan konsumsi penyu maupun telurnya,  monitoring Interaksi dengan aktivitas perikanan (karena penangkapan ikan dengan cara yang salah kerap membahayakan penyu laut).

TG sudah memberikan contoh nyata bagaimana seharusnya mahasiswa berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan terutama keberadaan satwa, selanjutnya adalah giliran kita. Salam Letari!