Sabtu, 17 Maret 2012

Edisi 1 Maret 2012 | Satwaliar Digital Magazine


Suatu hal yang ironi, di saat banyak aktivis konservasi menyuarakan kampanye anti-perdagangan satwa liar,di sana-sini tidak sedikit oknum yang memperdagangkan satwa liar melalui berbagai cara maupun media. Petugas Kementerian Kehutanan dan Kepolisian sudah banyak mengungkap perdagangan satwa liar ilegal, yang salah satunya melalui media internet. Perdagangan ilegal ini diduga merupakan jaringan perdagangan yang luas hingga ke berbagai negara. Penangkapan sindikat perdagangan satwa liar seperti ini merupakan kejadian yang diibaratkan fenomena gunung es, yang berarti kasus ini hanyalah sedikit dari sekian banyak jumlah sindikat perdagangan satwa liar yang tidak terungkap....


Mengenal Lebih Dekat drh. Intan Citraningputri

drh. Intan Citraningputri
drh. Intan Citraningputri yang sering disapa dengan pangilan drh. Cipie adalah seorang dokter hewan yang konsen di bidang satwa liar. Meski masih muda drh. Cipie tidak gentar untuk memasuki dunia medis satwa liar. Bagi beliau bekerja di bidang satwa liar adalah passion. Butuh tekad dan keberanian begitu tegasnya. Untuk mengenal drh. Cipie lebih dekat simak wawancara satwaliar.org dengan drh. Cipie di satwaliar digital magazine edisi maret.

Nama : drh.Intan Citraningputri
Tempat Tanggal Lahir : Purworejo, 10 Oktober 1987
Pendidikan : Pendidikan Profesi Dokter Hewan IPB 2010/2011
Karier : Dokter Hewan interest satwaliar
Pengalaman Organisasi : Sekretaris HIMPRO SATLI FKH IPB 2008-2009

Bendahara SIOUX-Lembaga Studi Ular Indonesia 2009-2010
Hobi : Memotret

Minggu, 04 Maret 2012

Spesies Badak di Indonesia

Ada lima spesies badak di seluruh dunia, yaitu Badak Putih (Ceratotherium simum simum), Badak Hitam (Diceros bicornis), Badak India (Rhinoceros unicornis), Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis). Ada hal menarik dari kelima spesies badak yang ada di dunia yaitu dua diantaranya adalah spesies asli indonesia (Badak Jawa dan Badak Sumatra). Ini merupakan anugerah dari yang maha pencipta kepada bangsa Indonesia. Namun, anugerah yang luar biasa ini juga diikuti dengan tanggung jawab yang besar. Sangat disayangkan saat ini Badak Jawa dan badak sumatra yang menjadi kebanggan bangsa Indonesia jumlahnya semakin sedikit. Bahkan kedua spesies kebanggan Indonesia ini termasuk dalam daftar mamalia besar yang paling terancam dan langka di dunia.

Maraknya perburuan badak untuk mendapatkan culanya menjadi ancaman paling berbahaya bagi kelangsungan hidup badak. Walaupun penelitian para ahli menyatakan bahwa struktur cula badak sama dengan struktur rambut, namun sebagian orang masih percaya bahwa cula badak berkhasiat sebagai obat-obatan. Sebagian orang percaya bahwa cula badak mempunyai khasiat sebagi obat-obatan.

Ada pepatah tak kenal maka tak sayang. Untuk dapat menyayangi badak maka ada baiknya kita mengenal lebih dekat Badak Jawa dan Badak Sumatra kebanggan Indonesia.

Badak Jawa
Badak Jawa saat ini mempunyai status Critically Endangered atau kritis terancam punah. Satu-satunya habitat alam Badak Jawa ada di ujung barat pulau Jawa tepatnya di Ujung Kulon. Penurunan populasi Badak Jawa disebabkan karena perburuan untuk mengambil culanya. Ciri-ciri Badak Jawa (menurut WWF)

  • Umumnya memiliki warna tubuh abu-abu kehitam-hitaman.
  • Hanya memiliki satu cula, dengan panjang sekitar 25 cm namun ada kemungkinan tidak tumbuh atau sangat kecil sekali pada betina.
  • Berat badan seekor Badak Jawa dapat mencapai 900 - 2300 kg dengan panjang tubuh sekitar 2 - 4 m.
  • Tingginya bisa mencapai hampir 1,7 m.
  • Kulitnya memiliki semacam lipatan sehingga tampak seperti memakai tameng baja.
  • Memiliki rupa mirip dengan badak India namun tubuh dan kepalanya lebih kecil dengan jumlah lipatan lebih sedikit.
  • Bibir atas lebih menonjol sehingga bisa digunakan untuk meraih makanan dan memasukannya ke dalam mulut.
  • Badak termasuk jenis pemalu dan soliter (penyendiri).

Badak Sumatra
Berbeda dengan Badak Jawa yang hanya memiliki satu cula, Badak Sumatra memiliki dua cula. Badak Sumatra merupakan satu-satunya badak asia yang memiliki dua cula. Badak Sumatra juga diketahui sebagai badak dengan ukuran tubuh paling kecil dibandingkan badak-badak lain di dunia. Selain itu, Badak SUmatra juga dikenal dengan hairy rhino dikarenakan Badak Sumatra mempunyai rambut yang lebih banyak dbandingkan spesies badak lainnya. Panjang tubuh Badak Sumatra Dewasa sekitar 2-3 meter dengan tinggi 1-1,5 meter. Bobot badan mencapai 600-950 kg. Kulit Badak Sumatra juga sangat tebal, seringkali disebutkan bahwa Badak Sumatra memiliki armour plates  yang tebalnya bisa mencapai 16 milimeter. Badak Sumatra memiliki status yang sama dengan Badak Jawa yaitu critically encangered. Saat ini populasinya terus menurun.


Perburuan dan perusakan habitat masih menjadi masalah utama yang menyebabkan populasi badak. Hanya dengan kesadaran semua pihak badak-badak ini bisa bertahan hidup. Tidak hanya pemerintah dan pengusaha, tetapi juga manusia secara umum harus bersatu untuk menyelamatkan badak.

Sumber:

Kamis, 01 Maret 2012

Press Release: Seminar Konservasi Badak; Rangkaian Ceremonial Tahun Badak 2012

Konservasi Badak Jawa selama ini tidak mendapat perhatian masyarakat maupun kalangan penggiat konservasi seperti halnya konservasi Orangutan maupun Harimau sumatera, padahal kondisi badak jawa tidak lebih baik dari kedua spesies lain yang juga merupakan hewan asli Indonesia. Prediksi jumlah badak jawa (Rhinoceros sondaicus) yang hanya 35 hingga 45 ekor, dengan jumlah badak betina yang hanya 4 – 5 ekor saja seperti yang disampaikan Sekjen IUCN (International Union for Conservation of Nature) Simon N. Stuart, seusai bertemu Wakil Presiden Boediono, menggambarkan suatu kondisi yang sangat serius bagi kelestarian badak jawa. Badak bercula satu ini menjadi mamalia yang paling terancam punah. Kita tentu tidak menginginkan kejadian seperti populasi badak yang berada di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam yang pada tahun 2000 memiliki 8 ekor badak jawa, dinyatakan punah Oktober 2011 oleh WWF (World Wide Foundation).

Apalagi jika mengingat masa kebuntingan badak betina yang tergolong lama, 16-19 bulan dengan jumlah bayi hanya satu ekor setiap masa kebuntingan. Dan interval antar masa kebuntingan badak bercula satu ini mencapai 4-5 tahun. Dengan populasi badak betina yang hanya empat hingga lima ekor dan masa kebuntingan yang demikian, tentu menjadi ancaman serius bagi konservasi badak jawa.

Maka dari itu untuk meningkatkan usaha pelestarian badak di habitatnya diperlukan strategi dan rencana aksi konservasi, sebagai kerangka kerja yang memerlukan penanganan prioritas, terpadu, dan melibatkan semua pihak dan stakeholder, seperti yang tecantum dalam  Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.43/ Menhut- Ii/2007 Tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak 2007 – 2017 (Strategy and Action Plan For The Conservation Of Rhinos In Indonesia). Adanya visi jangka panjang ini memerlukan kerja bersama agar bisa mencapai target-target yang telah dicanangkan, oleh karena itu dengan momentum 5 tahun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak serta pencanangan tahun 2012 sebagai Tahun Badak.

Perlu juga diusahakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat secara umum, tidak saja kalangan terkait (pemerintah, akademisi, peneliti, LSM, dll) untuk berperan aktif dalam usaha-usaha pelestarian badak. Peningkatan kesadaran itu dimulai dengan memberikan pengetahuan, pemahaman, serta aksi kegiatan kampanye yang menarik serta mampu menggugah kesadaran masyarakat umum tentang pelestarian badak.

Oleh karena itu, KSSL FKH UGM bersama YABI (Yayasan Badak Indonesia), Denial Denim, dan WCF (Wildlife Conservation Forum), akan melaksanakan acara Seminar Konservasi Badak “Upaya Pelestarian Badak dan Habitatnya”. Dalam acara ini akan ada dua sesi penyampaian materi yaitu sesi pertama tentang perkembangan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak 2007 - 2017 (Strategy and Action Plan For The Conservation Of Rhinos In Indonesia) oleh keynote speaker Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati, Dr. Ir. Novianto Bambang Wawandono, M.Sc. Kementerian Kehutanan RI, dimoderatori oleh Dr. drh. R. Wisnu Nurcahyo (FKH UGM). Selanjutnya diadakan diskusi panel antara tiga elemen penting dalam upaya pelestarian badak dan habitatnya yaitu akademisi yang diwakili oleh salah seorang dosen Fak. Kehutanan UGM (Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc.), LSM oleh YABI, dan anak-anak muda yang peduli konservasi satwaliar Denial Denim, dengan moderator  Dr. Drh. S. Indarjulianto (dosen FKH UGM sekaligus Dosen pembimbing KSSL FKH UGM) dalam diskusi panel ini akan dibahas tentang “Sinergisitas usaha pelestarian badak dari semua stakeholder; akademisi dan peneliti, Lembaga Sosial Masyarakat, serta peran masyarakat umum, terutama anak muda melalui kegiatan kreatif. Acara akan dilaksanakan pada tanggal 10 maret 2012 bertempat di Ruang Auditorium Fak. Kedoktean Hewan UGM, pukul 08.00 – 13.00 WIB.

Diharapkan dengan adanya acara Seminar ini dapat memberikan informasi perkembangan upaya pelestarian badak di Indonesia, dengan adanya pengetahuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat dan seluruh stakeholder dalam menggiatkan upaya pelestarian badak serta memberikan kontribusi nyata bagi konservasi badak. Acara ini juga merupakan salah satu dari upaya kampanye tentang tahun badak yang dirangkum dalam ”Tahun badak 2012 (Years of Rhino’s 2012)”, selanjutnya akan dilakukan berbagai kegiatan kampanye atau upaya penyadartahuan lain kepada masyarakat umum.

sumb
er: Panitia Seminar Badak, FKH UGM