Jumat, 22 November 2013

Taurine Pada Diet Felidae


Kebutuhan protein yang tinggi pada Felidae disebabkan karena kurangnya enzim aminotransferase dan enzim siklus urea pada famili ini. Kurangnya kedua enzim tersebut memberikan efek yang besar pada sintesis zat nutrisi yang diperlukan tubuh. Famili Felidae membutuhkan banyak taurine dan arginine dalam dietnya (Knopf et al. 1978).
Umumnya mamalia dapat mensintesis taurine dalam tubuh. Taurine diketahui bukan merupakan zat esensial kecuali pada hewan muda. Akan tetapi taurine merupakan zat esensial pada famili kucing-kucingan. Taurine merupakan asam amino. Taurine tidak termasuk pembentuk polipeptida tetapi berada di dalam jaringan tubuh hewan sebagai asam amino bebas. Pada mamalia taurine tidak dioksidasi, melainkan digunakan sebagai konjugat pada asam empedu. Anjing dan kucing menggunakan taurine sebagai konjugat asam empedu, sedangkan spesies lainnya termasuk manusia bisa menggunakan taurine atau glysin untuk mengkonjugasi asam empedu. Anjing menggunakan taurine untuk mengkonjugasi asam empedu akan tetapi hewan seperti anjing dan pengerat mempunyai kemampuan sintesis yang luar biasa sehingga bisa mencukupi kebutuhan taurin dalam tubuh. Spesies yang mempunyai kemampuan sintesis taurin lebih rendah seperti kelinci mengganti taurine dengan glycine sebagai konjugat asam empedunya. Spesies seperti manusia dan monyet dunia lama menggunakan taurine sebagai konjugat asam empedunya tetapi menggantinya dengan glycine ketika kadar taurine dalam plasma rendah. Inilah yang membuat kucing sangat sensisitif terhadap defisiensi taurine dibandingkan spesies lain. Keadaan ini diperburuk dengan kebutuhan pertumbuhan masaa otot yang besar pada famili Feidae (Hayes 1981).
Mamalia mensintesis taurine dengan cara mengoksidasi sulfur asam amino cystein. Felidae memiliki semua enzim yang dibutuhkan untuk mensintesis taurin, akan tetapi aktivitas enzim untuk sisntesa taurine lebih rendah dibandingkan spesies mamalia lainnya. Enzim terebut adalah cystein dioksigenase (CD) yang mengkatalisasi oksidasi cystein menjadi asam cysteinesulphid (CSA) dan asam cysteinesulphic dekarboksilase yang mengakatalisasi konversi CSA menjadi hypotaurine. Kurangnya aktivitas kedua enzime tersebut menimbulkan efek yang berlipat. Rendahnya aktivitas enzim akan memperlambat perjalanan sintesis taurine (Morris 2001).
Hayes et al. (1975) melaporkan bahwa defisiensi taurine pada Felidae dapat menyebabkan degenerasi retina. Selain itu Stuman et al. (1987) menunjukkan bahwa defisiensi taurine pada induk kucing bisa menyebabkan gangguan reproduksi dan kelainan pertumbuhan pada anak yang dikandungnya. Dalam penelitian yang lain disebutkan bahwa defisiensi taurine dihubung-hubungkan dengan kejadian dilatasi kardiomiopati, keadaan ini bisa diperbaiki dengan penambahan supplemen taurin pada pakan.
Taurine banyak terdapat pada pakan yang berasal dari hewan dan juga ikan. Taurine banyak terdapat pada jaringan hewan. Satwa anggota famili Felidae yang diberi pakan menggunakan daging. Permasalahan timbul ketika satwa diberikan pakan kombinasi antara daging dan bahan-bahan sayuran. Hal ini sering terjadi pada kucing domestik. Keuntungan lain memberikan daging hewan sebagai pakan selain mencukupi kebutuhan taurin dalam tubuh satwa adalah metabolisme protein-protein dalam daging akan menghasilkan pyruvat yang akan dikonversikan menjadi energi (Morris 2001).
Daftar Pustaka
Hayes, K.C., Carey, R.E. and Schmidt, S.J. 1975. Retinal degeneration associated with taurine deficiency in the cat. Science 188, 949–951.
Hayes, K.C. 1981. Nutritional Problems in Cats: Taurine Deficiency and Vitamin A Excess. Can. vet. J. 23: 2-5
Knopf K, Sturman JA, Amstrong M, Hayes C. 1978. Taurine: An Essential Nutrient for the Cat. J. Nutr. 108: 773-778,
Morris JG. 2001. Unique nutrient requirements of cats appear to be diet–induced evolutionary adaptations. Recent Advances in Animal Nutrition in Australia, Volume 13
Sturman, J.A., Gargano, A.D., Messing J.M. and Imake, H. 1987. Nutritional taurine deficiency and feline pregnancy and outcome. In: The Biology of Taurine. Methods and Mechanisms, pp. 113–124 (eds. R.J. Huxtable, F. Franconi and A. Giotti), Advances in Experimental Medicine, 217.

Kamis, 21 November 2013

Ubur-Ubur Sampah


Sampah dan kehidupan manusia adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Seiring dengan pertumbuhan populasi manusia maka sampah juga semakin banyak. Sebagai contoh, setiap hari Kota Jakarta menghasilkan 6.500 ton sampah sehari (Antara, 2013). Lalu kemana perginya sampah-sampah tersebut?. Ya, ke laut. Sampah dari seluruh dunia berkumpul di samudra pacific tepatnya di North Pacific Gyre. Sampah-sampah dari seluruh dunia berkumpul membentuk Great Pacific Garbage Patch. Tentunya sampah tersebut akan menimbulkan masalah bagi ekosistem laut, tak terkecuali bagi satwa liar yang hidup di laut. Setiap tahun kurang lebih 100.000 ekor mamalia laut dan penyu mati akibat sampah. Sampah-sampah tersebut termakan oleh satwa dan akhirnya meyebabkan kematian. Penyu seringkali salah membedakan antara kantong plastik dengan jellyfish atau ubur-ubur. Ubur-ubur adalah makanan favorit penyu (www.seaturtle.org 2013). Menyedihkan bukan?. Hal ini harus menjadi perhatian kita bersama untuk membuang sampah pada tempatnya. Salam Lestari!

Jumat, 28 Juni 2013

CARE itu peduli

 Care itu peduli, peduli itu ditunjukkan dengan CARE

Cause Animal Roars On Earth atau yang sering disingkat dengan CARE merupakan serangkaian acara yang dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa anggota Himpunan Minat dan Profesi Satwaliar, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor terhadap satwa yang terancam punah diakibatkan maraknya penjualan secara ilegal dan perburuan liar. Kegiatan CARE ini merupakan kelanjutan dari Seminar Nasional yang bertemakan “Pangolins; Know Them Well Treat Them Right yang dilakasanakan pada Sabtu, tanggal 1 Juni 2013 di Auditorium Andi Hakim Nasution Institut Pertanian Bogor.  Kegiatan CARE ini sendiri berlangsung pada Minggu, 9 Juni 2013 yang bertempatkan di Taman Safari Indonesia I, Cisarua.
Penyuluhan terhadap para pengunjung
Dikegiatan tahun ini tim CARE diberikan kesempatan yang sangat istimewa yaitu dapat menikmati fasilitas dari Taman Safari Indonesia I, Cisarua. Namun selain itu juga, ada tugas yang harus diemban dipundak masing-masing tim CARE yakni memberi edukasi kepada pengunjung tentang Trenggiling dan pentingnya arti medis konservasi. Kegiatan yang diketuai oleh Davin Christianto ini berjalan dengan menyenangkan karena banyak pengunjung yang antusias dengan penyampaian tim CARE mengenai perburuan liar satwa dan Trenggiling itu sendiri. Salah satunya adalah Bapak Joko Widodo yang berasal dari Bekasi.
“Kalau mau dinikmati, ya dinikmati bersama dong, itu seh namanya egois, seperti di Taman Safari saja, biar anak-anak dan orang tua kayak kami ini bisa sama-sama belajar tentang satwa, kan lebih bermafaat”, tutur seorang Bapak dari dua anak perempuan ini saat kami minta waktunya untuk sedikit wawancara mengenai tanggapan beliau terhadap perdagangan satwa. Selain itu juga ada dua koresponden yang mengaku pernah memelihara Trenggiling, dan tidak sedikit yang mengatakan pernah melihat Trenggiling diperjual belikan, serta sangat sedikit koresponden yang mengetahui zoonosis pada satwa liar. Pada umumnya mereka hanya mengetahui penyakit yang sering diberitakan seperti Antrhaks dan juga Flu Burung, sehingga dari tim CARE sendiri perlu memberikan informasi lebih mengenai penyakit zoonosis yang berasal dari satwa liar apalagi di Taman Safari Indonesia sendiri memiliki zona yang mengijinkan adanya kontak dengan satwa liar di antaranya Baby Zoo. Sedikit sekali pengunjung yang menyadari pentingnya mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh hewan setelah mereka mengambil photo bersama hewan, sementara pihak Taman Safari Indonesia sudah memberikan fasilitas tempat cuci tangan.
                Seperti yang dikatakan oleh Bapak Irawan selaku Manager Pemasaran Taman Safari Indonesia mengenai pengunjung Taman Safari Indonesia yang sudah terfilter dengan baik dengan adanya biaya masuk mencapai Rp 140.000,-, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa kesadaran pengunjung tentang pentingnya menjaga kebersihan selama kontak dengan hewan itu masih sangat rendah.
                Semoga dengan adanya kegiatan CARE ini, dapat sangat mmembantu masyarakat khususnya pengunjung Taman Safari Indonesia akan pentingnya menjaga kelestarian satwa, yang tidak hanya menikmati keindahan dan keberagaman satwa tetapi juga mengambil ilmu yang bermanfaat bagi diri sendiri, dan juga keluarganya.

Teks dan gambar oleh: Rahmayani Ramadhina (Satli 47)