Sabtu, 01 Desember 2012

Rapat Umum Anggota HIMPRO Satwaliar FKH IPB

Himpunan Minat dan Profesi Satwaliar FKH IPB (HIMPRO SATLI FKH IPB) telah melaksanakan Rapat Umum Anggota (RUA) pada hari jumat (30 November 2012). Ada tiga agenda penting dalam RUA yaitu Laporan Pertanggung Jawaban pengurus tahun 2011/2012, pembahasan AD/ART tahun 2012/2013, dan pemilihan ketua HIMPRO SATLI FKH IPB tahun 2012/2013. Laporan pertanggung jawaban berlangsung lancar dan diterima oleh forum yang hadir. Beberapa rekomendasi diberikan kepada pengurus yang akan datang untuk perbaikan HIMPRO SATLI satu tahun ke depan. Pembahasan AD/ART juga berlangsung lancar. Beberapa pasal yang sudah tidak relevan direvisi untuk kebaikan HIMPRO SATLI setahun ke depan. Agenda terkahir dari RUA HIMPRO SATLI adalah pemilihan ketua untuk periode 2012/2013 yang akhirnya memutuskan I Nengah Donny Artika sebagai ketua HIMPRO SATLI FKH IPB tahun 2012/2013.

Minggu, 23 September 2012

Turtle Guard FKH Universitas Udayana



Mahasiswa sudah seharusnya peduli terhadap lingkungan sekitar, termasuk terhadap kelestarian satwa. Selain dikenal sebagai agent of change atau pembawa perubahan mahasiswa memang mempunyai tanggung jawab yang lebih besar dalam melestarikan alam dibandingkan masyrakat awam. Dengan keilmuan yang dimiliki mahasiswa, maka mahasiswa sangat mampu untuk mengemban tugas mulia ini.

Selain dikenal sebagai kamu intelek, mahasiswa juga dikenal sebagai insan kreatif. Seperti yangdilakukan mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana (FKH Unud). Beberapa mahasis wa FKH Unud tergabung dalam sebuah organisasi intra kampus Minat Profesi Satwa Aquatic Turtle Guard FKH Unud. Organisasi ini mengkhususkan diri dalam bidang konservasi penyu dan satwa laut yang dilindungi. Tujuan didirikanya organisasi ini adalah sebagai wadah kreasi bagi mahasiswa FKH dan institusi lain untuk berlatih dan menuangkan aspirasinya dalam upaya konservasi penyu laut serta satwa laut dilindungi atau terancam punah lainnya. Turtle Guard (TG) sudah berdiri sejak 22 april 2004. Meskipun terbilang cukup muda tetapi TG sudah banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang sangat bermanfaat bagi konservasi penyu maupun bagi anggota TG sendiri. Menurut Ida Ayu Dian Kusuma Dewi (Ketua TG) kegiatan yang rutin dilakukan antara lain monitoring kesehatan penyu dan tukik di Pusat Konservasi dan Pendidikan  Penyu Laut (Turtle Conservation and Education Center) Serangan. Selain kegiatan rutin tersebut, TG juga banyak melakukan kegiatan yang bersifat insidental seperti. seperti Beach Clean Up setiap 6 bulan sekali, penyelamatan (relokasi) sarang penyu, dan seminar-seminar tentang satwa liar akuatik dan penyu. Ida Ayu juga menambahkan bahwa tahun ini TG memfokuskan diri pada tiga hal yaitu Habitat Protection (perlindungan terhadap nesting site),  mengurangi perdagangan illegal dan konsumsi penyu maupun telurnya,  monitoring Interaksi dengan aktivitas perikanan (karena penangkapan ikan dengan cara yang salah kerap membahayakan penyu laut).

TG sudah memberikan contoh nyata bagaimana seharusnya mahasiswa berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan terutama keberadaan satwa, selanjutnya adalah giliran kita. Salam Letari!

Rabu, 06 Juni 2012

Wilis dan Martha menemukan pasangannya di alam


Foto. Pemasangan radio collar pada kukang
Wilis dan Martha adalah dua dari sedikit kukang yang beruntung dapat kembali ke alam liar setelah sebelumnya diambil secara paksa dari tempat asalnya di hutan. Kedua kukang tersebut telah melalui proses rehabilitasi di Pusat rehabilitasi kukang Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI). Sebelum dilepasliarkan, radio collar dipasang di kedua leher kukang tersebut agar tim yang melakukan monitoring dapat melacak keberadaan mereka dan mengambil data sebanyak-banyaknya tentang kukang.

Pada tahun 2010 YIARI menerima dua puluh ekor Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) hasil sitaan BBKSDA Jawa Timur. Dua diantaranya adalah Wilis dan Martha. Kedua kukang ini menjalani proses rehabilitasi dimana mereka belajar mencari makan sendiri, berinteraksi dengan kukang lain, mengurangi kontak dengan manusia dan tentu saja beraktivitas hanya pada malam hari.

Proses setelah rehabilitasi adalah pelepasliaran. Wilis dan Martha merupakan kandidat pelepasliaran yang baik karena selain mereka dalam kondisi sehat dan cukup liar mereka juga memiliki gigi yang lengkap. Gigi yang lengkap sangat penting bagi kukang untuk bertahan hidup di alam.

Sehingga, pada tahun 2011 atas kerjasama YIARI dengan BBKSDA1 Jawa Timur, BBKSDA1 Jawa Barat dan TNGHS2 pelepasliaran pun dilakukan. Wilis dilepasliarkan pada tanggal 3 Mei 2011 dan Martha pada tanggal 12 Desember 2011. Sejak saat itu proses monitoring terus dilakukan hingga saat ini.

Monitoring dilakukan pada malam hari karena kukang adalah satwa nokturnal yang berarti hanya beraktivitas di malam hari. Awalnya, tim mengalami kesulitan karena kukang masih ‘berkenalan’ dengan lingkungan barunya sehingga tim harus menjelajahi daerah yang cukup luas. Namun, sekitar 5 bulan terakhir daerah pergerakan kukang sudah mulai stabil dan pada bulan Maret 2012 Wilis dan Martha terpantau sedang berinteraksi dengan kukang liar.

Berdasarkan standar international dari IUCN3 proses pelepasliaran dinyatakan berhasil apabila satwa dapat berkembangbiak di alam. Dari hasil pengamatan tim monitoring YIARI, Wilis dan Martha sudah berinteraksi cukup intim dengan kukang liar. Beberapa kali mereka terlihat sedang kawin. Di waktu lain keduanya terlihat menghabiskan waktu dengan pasangannya seperti tidur berdekatan di pohon yang sama.

Ke depannya tim monitoring akan lebih fokus memantau Martha. Martha adalah kukang betina yang memakai radio collar. Dengan adanya radio collar tim dapat mengetahui jika sewaktu-waktu Martha hamil dan melahirkan anak.

Semoga Wilis dan Martha dapat menjadi dua kukang pertama yang dinyatakan benar-benar sukses dilepasliarkan ke alam.


Keterangan:
1.      BBKSDA - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam
2.      TNGHS – Taman Nasional Gunung Halimun Salak
3.      IUCN – International Union for Conservation of Nature

Rabu, 23 Mei 2012

"Together To Be Better" (Gathering Chelonia FKH IPB 2012)

Semua peserta berfoto bersama di akhir acara
Masih dalam rangkaian acara Seminar Nasional SATLI 2012 lalu, Himpro SATLI juga menggelar acara gathering CHELONIA (Forum Komunikasi Mahasiswa Pemerhati Satwa Liar FKH Indonesia) pada hari sabtu 19 mei 2012. Pada acara gathering kali ini hadir delegasi dari UGM, Universitas Udayana, Universitas Airlangga, dan tentu saja tuan rumah yaitu IPB. Acara ini bertujuan untuk mengakrabkan antara mahasiswa yang memiliki ketertarikan yang sama yaitu pada bidang medis konservasi satwa liar. Selain itu acara ini juga berfungsi sebaga ajang berbagi pengalaman dari masing-masing perguruan tinggi. Output yang diharapakan dari acara ini adalah makin terjalinnya komunikasi antara mahasiswa kedokteran hewan pemerhati satwa liar di Indonesia yang akhirnya bisa bekerja sama untuk memajukan pelestarian satwa liar di Indonesia dan dunia pada umumnya. Acara digelar dengan format santai tetapi tetap serius. Masing-masing delegasi menyampaikan presentasi tentang apa yang telah mereka lakukan. Kegiatan presentasi diselingi dengan games yang dapat menambah keakrban para peserta. Semoga tujuan akhir dari acara ini dapat tercapai demi kehiudpan satwa liar yang lebih baik. Salam Lestari!


Peserta sedang mengikuti games menyusun puzzle


Senin, 21 Mei 2012

Kampanye Satwa Liar CARE di Kebun Raya Bogor

Maskot Badak Sumatra "RHINO" bersama anak-anak
CARE (Cause Animal Roaring on Earth) merupakan rangkaian kegiatan dari seminar nasional SATLI 2012. Setelah sehari sebelumnya diadakan seminar nasional yang bertajuk SOS Rhinoceros dilanjutkan dengan kampanye satwa liar di Kebun Raya Bogor pada hari minggu 20 mei 2012. Kampanye ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat untuk turut serta menjaga kelestarian satwa liar dan habitatnya.
Peran masyarakat dalam pelestarian satwa liar sangat penting. Saat ini ancaman terbesar terhadap satwa liar adalah kerusakan habitat dan perdagangan satwa liar. Perdagangan satwa liar terjadi karena ada permintaan pasar yang luar biasa besar. Kampanye CARE menginformasikan kepada masyarakat bahwa menjual, membeli atau memelihara satwa liar yang dilindungi dapat dikenai hukuman karena sudah ada perundang-undangan yang mengaturnya. Selain itu kampanye CARE juga memeberikan informasi ancaman zoonosis yang bisa ditularkan melalui satwa liar yang dipelihara.
Kampanye CARE ini dipakarsai oleh HIMPRO SATLI FKH IPB akan tetapi pada pelaksanaannya kampanye ini juga diikuti oleh relawan dari IAR Indonesia, HIMPRO HKSA FKH IPB, HIMPRO Ornithologi dan Unggas FKH IPB serta HIMPRO Ruminansia FKH IPB. Beberapa pengunjung sangat antusias dengan adanya kampanye ini. Kebanyakan dari mereka belum mengetahui tentang bahaya memelihara satwa liar. Tetapi masaih banyak juga pengunjung yang memandang sebelah mata kampanye ini, mereka belum memandang penting masalah satwa liar. Beberapa dari pengunjung juga menanyakan bagaiamana cara menyelamatkan satwa liar. Beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan satwa liar:
  • TIDAK menjual, membeli atau memelihara satwa liar karena satwa liar akan hidup bahagia di habitatnya
  • Menerapkan gaya hidup yang ramah lingkungan
  • TIDAK merusak habitat satwa liar
Masih banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk melestarikan satwa liar. Melestarikan satwa liar berarti melestarikan habitatnya itu sama artinya dengan kita menjaga kelestarian alam. Salam Lestari!


Liputan Seminar Nasional SATLI 2012 "SOS Rhinoceros"


Sabtu 19 mei 2012 lalu HIMPRO SATWALIAR FKH IPB mengadakan seminar dengan tema SOS Rhinoceros. Tema SOS Rhinoceros yang diangkat memang beralasan karena saat ini populasi badak jawa maupun badak sumatra yang sudah sangat kritis. Seminar kali ini menghadirkan tiga orang pembicara yaitu drh. Dewi Ratih Agungpriyono, Ph.D yang merupakan ahli patologi yang terlibat langsung pada nekropsi Torgamba beberapa saat yang lalu, drh. Muhammad Agil, MSc. Agr sebagai ahli badak serta Ir. Waladi Isnan dari Yayasan Badak Indonesia (YABI).
Seminar berlangsung hangat, peserta sangat antusias mengikuti materi yang disampaikan oleh nara sumber. drh Muhammad Agil menjelaskan peranan dokter hewan dalam usaha konservasi badak. Pembicara kedua Ir Waladi Isnan menjelaskan tentang YABI serta update informasi tentang badak jawa dan badak sumatra. Pembicara yang terakhir yaitu drh. Dewi Ratih mengupas tuntas hasil nekropsi yang dilakukan pada Torgamba (badak sumatra yang belum lama ini mati). Selain faktor usia, gagal ginjal kronis diduga menjadi penyebab kematian Torgamba.
Seminar yang diikuti oleh delegasi dari FKH UGM, FKH Universitas Airlangga dan delegasi dari FKH Universitas Udayana ini dibuka langsung oleh Dekan FKH IPB. Dalam sambutannya Dekan FKH IPB mengatakan bahwa hendaknya kegiatan seperti ini harus sering dilakukan untuk menambah wawsan para calon dokter hewan. Selain itu beliau juga menghimbau agar para peserta dapat berkontribusi langsung bekerja di bidang satwa liar. Salam Lestari! (Agung Sudomo)
Para Pembicara bersama Ketua HIMPRO SATLI FKH IPB dan Ketua Panitia

Kamis, 26 April 2012

Seminar Nasional Badak "SOS Rhinoceros"

Seminar Nasional SATLI 2012

Himpro SATLI FKH IPB kembali mengadakan seminar nasional tentang satwaliar. Berbeda dengan seminar nasional pada tahun sebelumnya, kali ini tema yang diangkat adalah tentang Badak. Kegiatan seminar nasional ini merupakan sebuah rangkaian acara. Selain seminar dalam rangkaian acara ini juga akan diadakan kegiatan CARE (Cause Animal Roaring on Earth).
Isu tentang konservasi badak di Indonesia memang menjadi isu yang tidak bisa diabaikan. Walaupun indonesia merupakan habitat dari dua spesies badak (total ada lima spesies badak di dunia) kita masih belum bisa berbangga hati karena kedua spesies badak tersebut masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Himpro SATLI FKH IPB sebagai Himpunan Minat dan Profesi yang berkonsentarsi di bidang medis satwa liar mengadakan seminar yang akan mengulas baik sisi medis badak serta informasi-informasi yang terkait pelestarian badak.
Selain mengadakan seminar, Himpro SATLI FKH IPB juga mengadakan edukasi tentang satwa liar khususnya badak kepada siswa sekolah dasar (SD). Dalam kegiatan yang disebut CARE ini peserta bertindak sebagai relawan yang akan berinteraksi secra langsung dengan peserta. Beberapa media sudah dipersiapakan untuk mendukung program edukasi ini yaitu Lomba Mewarnai dan Lomba Komik Strip untuk siswa SD. Himpro SATLI FKH IPB percaya bahwa pendidikan yang dimulai dari dasara kana memberikan kesan yang mendalam. Dari program ini diharapkan siswa SD lebih peduli terhadapa satwa liar khususnya badak yang merupakan spesies endemis Indonesia
Salam Lestari!

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan menghubungi 
Andi Hiroyuki 083819698496
Anggi Fitria 081392159854


Senin, 09 April 2012

Walk To Habitat (Nocturnal Wildlife Photography)

Berbicara konservasi satwa liar tidak akan pernah terlepas dari peran masyarakat sekitar habitat satwa liar. Usaha konservasi satwa liar akan sulit diwujudkan tanpa melibatkan masyarakat sekitar. Pada dasarnya konservasi satwa liar tidak hanya menyelamatkan satwa liar yang ada pada suatu habitat, tetapi juga melestarikan habitat satwa liar tersebut, termasuk masyarakat yang tinggal di sekitar habitat. Peran masyarakat untuk menjaga satwa liar sangat besar, akan tetapi cukup menyelaraskan masyarakat untuk berperan dalam konservasi satwa liar. Sering kali kita mendengar bahwa salah satu ancaman terbesar kepunahan satwa liar disebabkan rusaknya habitat. Perusakan habitat erat kaitannya juga dengan kepentingan ekonomi. Salah satu solusi untuk masalah ini adalah ekowisata. Ekowisata bisa menjembatani antara kebutuhan ekonomi masyarakat di sekitar habitat satwa liar. Turis yang datang untuk melihta satwa liar di habitatnya akan mendatangkan pendapatan bagi masyarakat sekitar.
Kukang ID mengadakan sebuah event yang berdasarkan wisata ekologi. Tema yang diangkat adalah "Fotografi sebagai Sarana Penyelamatan Satwa Liar Nokturnal". Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk ekowisata yang mengajak para pehobi fotografi satwa liar untuk berkunjung langsung bertemu dengan satwa liar ke habitatnya. Acara ini di kemas secara eksklusif dan berasaskan lingkungan. Kukang ID juga menghadirkan pembicara yang sangat berkompeten di bidang fotografi satwa liar dan juga di bidang satwa liar serta habitanya. Untuk info lebih lanjut anda bisa menghubungi contact person di bawah ini.

Diaz Sari Pusparini 085693786708
Ryan Avriandi 083812906106

Sabtu, 17 Maret 2012

Edisi 1 Maret 2012 | Satwaliar Digital Magazine


Suatu hal yang ironi, di saat banyak aktivis konservasi menyuarakan kampanye anti-perdagangan satwa liar,di sana-sini tidak sedikit oknum yang memperdagangkan satwa liar melalui berbagai cara maupun media. Petugas Kementerian Kehutanan dan Kepolisian sudah banyak mengungkap perdagangan satwa liar ilegal, yang salah satunya melalui media internet. Perdagangan ilegal ini diduga merupakan jaringan perdagangan yang luas hingga ke berbagai negara. Penangkapan sindikat perdagangan satwa liar seperti ini merupakan kejadian yang diibaratkan fenomena gunung es, yang berarti kasus ini hanyalah sedikit dari sekian banyak jumlah sindikat perdagangan satwa liar yang tidak terungkap....


Mengenal Lebih Dekat drh. Intan Citraningputri

drh. Intan Citraningputri
drh. Intan Citraningputri yang sering disapa dengan pangilan drh. Cipie adalah seorang dokter hewan yang konsen di bidang satwa liar. Meski masih muda drh. Cipie tidak gentar untuk memasuki dunia medis satwa liar. Bagi beliau bekerja di bidang satwa liar adalah passion. Butuh tekad dan keberanian begitu tegasnya. Untuk mengenal drh. Cipie lebih dekat simak wawancara satwaliar.org dengan drh. Cipie di satwaliar digital magazine edisi maret.

Nama : drh.Intan Citraningputri
Tempat Tanggal Lahir : Purworejo, 10 Oktober 1987
Pendidikan : Pendidikan Profesi Dokter Hewan IPB 2010/2011
Karier : Dokter Hewan interest satwaliar
Pengalaman Organisasi : Sekretaris HIMPRO SATLI FKH IPB 2008-2009

Bendahara SIOUX-Lembaga Studi Ular Indonesia 2009-2010
Hobi : Memotret

Minggu, 04 Maret 2012

Spesies Badak di Indonesia

Ada lima spesies badak di seluruh dunia, yaitu Badak Putih (Ceratotherium simum simum), Badak Hitam (Diceros bicornis), Badak India (Rhinoceros unicornis), Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis). Ada hal menarik dari kelima spesies badak yang ada di dunia yaitu dua diantaranya adalah spesies asli indonesia (Badak Jawa dan Badak Sumatra). Ini merupakan anugerah dari yang maha pencipta kepada bangsa Indonesia. Namun, anugerah yang luar biasa ini juga diikuti dengan tanggung jawab yang besar. Sangat disayangkan saat ini Badak Jawa dan badak sumatra yang menjadi kebanggan bangsa Indonesia jumlahnya semakin sedikit. Bahkan kedua spesies kebanggan Indonesia ini termasuk dalam daftar mamalia besar yang paling terancam dan langka di dunia.

Maraknya perburuan badak untuk mendapatkan culanya menjadi ancaman paling berbahaya bagi kelangsungan hidup badak. Walaupun penelitian para ahli menyatakan bahwa struktur cula badak sama dengan struktur rambut, namun sebagian orang masih percaya bahwa cula badak berkhasiat sebagai obat-obatan. Sebagian orang percaya bahwa cula badak mempunyai khasiat sebagi obat-obatan.

Ada pepatah tak kenal maka tak sayang. Untuk dapat menyayangi badak maka ada baiknya kita mengenal lebih dekat Badak Jawa dan Badak Sumatra kebanggan Indonesia.

Badak Jawa
Badak Jawa saat ini mempunyai status Critically Endangered atau kritis terancam punah. Satu-satunya habitat alam Badak Jawa ada di ujung barat pulau Jawa tepatnya di Ujung Kulon. Penurunan populasi Badak Jawa disebabkan karena perburuan untuk mengambil culanya. Ciri-ciri Badak Jawa (menurut WWF)

  • Umumnya memiliki warna tubuh abu-abu kehitam-hitaman.
  • Hanya memiliki satu cula, dengan panjang sekitar 25 cm namun ada kemungkinan tidak tumbuh atau sangat kecil sekali pada betina.
  • Berat badan seekor Badak Jawa dapat mencapai 900 - 2300 kg dengan panjang tubuh sekitar 2 - 4 m.
  • Tingginya bisa mencapai hampir 1,7 m.
  • Kulitnya memiliki semacam lipatan sehingga tampak seperti memakai tameng baja.
  • Memiliki rupa mirip dengan badak India namun tubuh dan kepalanya lebih kecil dengan jumlah lipatan lebih sedikit.
  • Bibir atas lebih menonjol sehingga bisa digunakan untuk meraih makanan dan memasukannya ke dalam mulut.
  • Badak termasuk jenis pemalu dan soliter (penyendiri).

Badak Sumatra
Berbeda dengan Badak Jawa yang hanya memiliki satu cula, Badak Sumatra memiliki dua cula. Badak Sumatra merupakan satu-satunya badak asia yang memiliki dua cula. Badak Sumatra juga diketahui sebagai badak dengan ukuran tubuh paling kecil dibandingkan badak-badak lain di dunia. Selain itu, Badak SUmatra juga dikenal dengan hairy rhino dikarenakan Badak Sumatra mempunyai rambut yang lebih banyak dbandingkan spesies badak lainnya. Panjang tubuh Badak Sumatra Dewasa sekitar 2-3 meter dengan tinggi 1-1,5 meter. Bobot badan mencapai 600-950 kg. Kulit Badak Sumatra juga sangat tebal, seringkali disebutkan bahwa Badak Sumatra memiliki armour plates  yang tebalnya bisa mencapai 16 milimeter. Badak Sumatra memiliki status yang sama dengan Badak Jawa yaitu critically encangered. Saat ini populasinya terus menurun.


Perburuan dan perusakan habitat masih menjadi masalah utama yang menyebabkan populasi badak. Hanya dengan kesadaran semua pihak badak-badak ini bisa bertahan hidup. Tidak hanya pemerintah dan pengusaha, tetapi juga manusia secara umum harus bersatu untuk menyelamatkan badak.

Sumber:

Kamis, 01 Maret 2012

Press Release: Seminar Konservasi Badak; Rangkaian Ceremonial Tahun Badak 2012

Konservasi Badak Jawa selama ini tidak mendapat perhatian masyarakat maupun kalangan penggiat konservasi seperti halnya konservasi Orangutan maupun Harimau sumatera, padahal kondisi badak jawa tidak lebih baik dari kedua spesies lain yang juga merupakan hewan asli Indonesia. Prediksi jumlah badak jawa (Rhinoceros sondaicus) yang hanya 35 hingga 45 ekor, dengan jumlah badak betina yang hanya 4 – 5 ekor saja seperti yang disampaikan Sekjen IUCN (International Union for Conservation of Nature) Simon N. Stuart, seusai bertemu Wakil Presiden Boediono, menggambarkan suatu kondisi yang sangat serius bagi kelestarian badak jawa. Badak bercula satu ini menjadi mamalia yang paling terancam punah. Kita tentu tidak menginginkan kejadian seperti populasi badak yang berada di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam yang pada tahun 2000 memiliki 8 ekor badak jawa, dinyatakan punah Oktober 2011 oleh WWF (World Wide Foundation).

Apalagi jika mengingat masa kebuntingan badak betina yang tergolong lama, 16-19 bulan dengan jumlah bayi hanya satu ekor setiap masa kebuntingan. Dan interval antar masa kebuntingan badak bercula satu ini mencapai 4-5 tahun. Dengan populasi badak betina yang hanya empat hingga lima ekor dan masa kebuntingan yang demikian, tentu menjadi ancaman serius bagi konservasi badak jawa.

Maka dari itu untuk meningkatkan usaha pelestarian badak di habitatnya diperlukan strategi dan rencana aksi konservasi, sebagai kerangka kerja yang memerlukan penanganan prioritas, terpadu, dan melibatkan semua pihak dan stakeholder, seperti yang tecantum dalam  Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.43/ Menhut- Ii/2007 Tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak 2007 – 2017 (Strategy and Action Plan For The Conservation Of Rhinos In Indonesia). Adanya visi jangka panjang ini memerlukan kerja bersama agar bisa mencapai target-target yang telah dicanangkan, oleh karena itu dengan momentum 5 tahun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak serta pencanangan tahun 2012 sebagai Tahun Badak.

Perlu juga diusahakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat secara umum, tidak saja kalangan terkait (pemerintah, akademisi, peneliti, LSM, dll) untuk berperan aktif dalam usaha-usaha pelestarian badak. Peningkatan kesadaran itu dimulai dengan memberikan pengetahuan, pemahaman, serta aksi kegiatan kampanye yang menarik serta mampu menggugah kesadaran masyarakat umum tentang pelestarian badak.

Oleh karena itu, KSSL FKH UGM bersama YABI (Yayasan Badak Indonesia), Denial Denim, dan WCF (Wildlife Conservation Forum), akan melaksanakan acara Seminar Konservasi Badak “Upaya Pelestarian Badak dan Habitatnya”. Dalam acara ini akan ada dua sesi penyampaian materi yaitu sesi pertama tentang perkembangan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak 2007 - 2017 (Strategy and Action Plan For The Conservation Of Rhinos In Indonesia) oleh keynote speaker Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati, Dr. Ir. Novianto Bambang Wawandono, M.Sc. Kementerian Kehutanan RI, dimoderatori oleh Dr. drh. R. Wisnu Nurcahyo (FKH UGM). Selanjutnya diadakan diskusi panel antara tiga elemen penting dalam upaya pelestarian badak dan habitatnya yaitu akademisi yang diwakili oleh salah seorang dosen Fak. Kehutanan UGM (Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc.), LSM oleh YABI, dan anak-anak muda yang peduli konservasi satwaliar Denial Denim, dengan moderator  Dr. Drh. S. Indarjulianto (dosen FKH UGM sekaligus Dosen pembimbing KSSL FKH UGM) dalam diskusi panel ini akan dibahas tentang “Sinergisitas usaha pelestarian badak dari semua stakeholder; akademisi dan peneliti, Lembaga Sosial Masyarakat, serta peran masyarakat umum, terutama anak muda melalui kegiatan kreatif. Acara akan dilaksanakan pada tanggal 10 maret 2012 bertempat di Ruang Auditorium Fak. Kedoktean Hewan UGM, pukul 08.00 – 13.00 WIB.

Diharapkan dengan adanya acara Seminar ini dapat memberikan informasi perkembangan upaya pelestarian badak di Indonesia, dengan adanya pengetahuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat dan seluruh stakeholder dalam menggiatkan upaya pelestarian badak serta memberikan kontribusi nyata bagi konservasi badak. Acara ini juga merupakan salah satu dari upaya kampanye tentang tahun badak yang dirangkum dalam ”Tahun badak 2012 (Years of Rhino’s 2012)”, selanjutnya akan dilakukan berbagai kegiatan kampanye atau upaya penyadartahuan lain kepada masyarakat umum.

sumb
er: Panitia Seminar Badak, FKH UGM

Selasa, 28 Februari 2012

Seminar Pelestarian Badak Melalui Konservasi dan Medis

Seminar Pelestarian Badak Melalui Konservasi dan Medis


Seminar Pelestarian Badak Melalui Konservasi dan Medis

Sabtu, 10 Maret 2012
08.00 WIB - selesai
Ruang Auditorium, gedung V3, Fakultas Kedokteran Hewan UGM

Pemateri :
Keynote Speaker :
Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati
Yayasan Badak Indonesia (YABI)

Dr. Satyawan Pudyatmoko S.Hut., M. Sc. (Fakultas Kehutanan UGM)

Seto Lareno (Denialdenim)

HTM : Rp 15.000,-

cp : hanung : 0857 470 38 38 3

Senin, 27 Februari 2012

Web satwaliar.org: Educate People About Wildlife

Puji syukur kita panjatkan kehadhirat Tuhan Yang Maha Esa, atas karunia yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita. Ucapan syukur juga senantiasa kami panjatkan atas kesempatan untuk memulai dengan sebuah langkah kecil. Situs satwaliar.org merupakan sebuah situs yang dimunculkan sebagai media informasi seputar satwaliar dan medis konservasi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan perhatian masyarakat dan pemerintah terhadap keberlangsungan hidup dan lestarinya satwa-satwa di bumi.  

Satwaliar.org merupakan media online yang digagas oleh Danang Dwi Cahyadi dan Agung Sudomo, yang keduanya memiliki perhatian terhadap dunia satwaliar. Tag line "Educate People about Wildlife" menjadi motivasi utama satwaliar.org dalam menyampaikan informasi kepada Situs web ini didesain untuk menyediakan informasi tentang satwaliar di Indonesia khususnya maupun dunia pada umumnya, berita-berita dan fakta yang terbaru, serta pengetahuan tentang ilmu kedokteran pada satwaliar. 

Suatu ajakan kepada anda untuk menjelajahi situs web ini dan mendapatkan informasi yang lebih rinci. Harapannya situs web ini cukup menyediakan semua informasi yang dibutuhkan tentang satwaliar dan pengetahuan medis konservasi di Indonesia. Apabila ada informasi yang belum ada dalam halaman situs satwaliar.org, bisa ditanyakan kepada kami melalui e-mail mysatwaliar[at]gmail.com, sebisa mungkin akan kami sampaikan informasi yang anda butuhkan. Semoga situs web ini memberikan manfaat bagi khalayak dan bagi kelestarian satwaliar, khususnya di Indonesia.